Tampilkan postingan dengan label Kabar Berita Komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Berita Komunitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

Energi Sosial Budaya dan Lokalitas: Titik Fokus Konsep Pemberdayaan



Dalam masyarakat, ada yang dinamakan sebagai energi sosial budaya, atau lazim disebut sebagai energi sosial saja, yang merupakan suatu daya internal yang menunjukkan pada mekanisme dalam mengatasi masalahnya sendiri. Uphoff (Sayogyo, 1994:154) memberikan batasan bahwa energi sosial tersebut bersumber pada tiga unsur, pertama, gagasan (ideas) yaitu buah pikiran progresif yang trampil dan dapat diterima bersama. Kedua, idaman (ideals) atau harapan bagi kepentingan bersama, yaitu wujud kesejahteraan bersama sebagai buah realisasi gagasan sebelumnya. Dalam hal ini berlaku suatu norma dasar “berbuatlah bagi orang lain sebagaimana orang lain berbuat bagimu”. Ketiga, persaudaraan (friendship) yaitu wujud solidaritas dalam suatu satuan sosial sebagai daya utama dalam proses mencapai idaman yang telah dikukuhkan. Energi sosial ini terwujud dalam ragam kelembagaan lokal dalam masyarakat. Lembaga di sini dipahami sebagai ‘pola perilaku yang matang’ berupa aktivitas-aktivitas, baik yang terorganisasi maupun yang tidak.
Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat sebenarnya adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi dan politik yang merangkum berbagai nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat “people centered, participatory, empowering, and a sustaniable”  (Chambers, 1995).
Dalam konsep pemberdayaan, masyarakat dipandang sebagai subyek yang dapat melakukan perubahan, oleh karena diperlukan pendekatan yang lebih dikenal dengan singkatan ACTORS. Pertama authority atau wewenang pemberdayaan dilakukan dengan memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk melakukan perubahan yang mengarah pada perbaikan kualitas dan taraf hidup mereka. Kedua confidence and compentence atau rasa percaya diri dan kemampuan diri, pemberdayaan dapat diawali dengan menimbulkan dan memupuk rasa percaya diri serta melihat kemampuan bahwa masyarakat sendiri dapat melakukan perubahan. Ketiga, truth  atau keyakinan, untuk dapat berdaya, masyarakat atau seseorang harus yakin bahwa dirinya memiliki potensi untuk dikembangkan. Keempat, opportunity atau kesempatan, yakni memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memilih segala sesuatu yang mereka inginkan sehingga dapat mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Kelima, responsibility atau tanggung jawab, maksudnya yaitu perlu ditekankan adanya rasa tanggung jawab pada masyarakat terhadap perubahan yang dilakukan. Terakhir, keenam, support atau dukungan, adanya dukungan dari berbagai pihak agar proses perubahan dan pemberdayaan dapat menjadikan masyarakat ‘lebih baik’.
Titik fokus konsep pemberdayaan adalah lokalitas, sebab civil society menurut Friedmann (1992:31) masyarakat akan merasa siap diberdayakan melalui isu-isu lokal. Tentunya dengan tidak mengabaikan kekuatan-kekuatan ekonomi dan struktur di luar civil society tersebut. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat  tidak hanya pada sektor ekonomi tetapi juga secara politis, sehingga pada akhirnya masyarakat akan memiliki posisi tawar yang kuat secara nasional maupun internasional. Target dari konsep pemberdayaan ini adalah ingin mengubah kondisi yang serba sentralistik menjadi situasi yang lebih otonom dengan cara memberikan kesempatan kepada kelompok masyarakat miskin untuk merencanakan dan melaksanakan program pembangunan yang mereka pilih sendiri. Masyarakat miskin juga diberi kesempatan untuk mengelola dana pembangunan, baik yang berasal dari pemerintah maupun dari pihak luar.
Sumber Gambar: http://fema.ipb.ac.id/wp-content/uploads/2008/12/modal-sosial.jpg

Konsep Pemberdayaan, Membantu Masyarakat Agar Bisa Menolong Diri Sendiri





Pemberdayaan dilahirkan dari bahasa Inggris, yakni empowerment, yang mempunyai makna dasar ‘pemberdayaan’, di mana ‘daya’ bermakna kekuatan (power). Bryant & White (1987) menyatakan pemberdayaan sebagai upaya menumbuhkan kekuasaan dan wewenang yang lebih besar kepada masyarakat miskin. Cara dengan menciptakan mekanisme dari dalam (build-in) untuk meluruskan keputusan-keputusan alokasi yang adil, yakni dengan menjadikan rakyat mempunyai pengaruh. Sementara Freire (Sutrisno, 1999) menyatakan empowerment bukan sekedar memberikan kesempatan rakyat menggunakan sumber daya dan biaya pembangunan saja, tetapi juga upaya untuk mendorong mencari cara menciptakan kebebasan dari struktur yang opresif.
Konsep lain menyatakan bahwa pemberdayakan mempunyai dua makna, yakni mengembangkan, memandirikan, menswadayakan dan memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan. Makna lainnya adalah melindungi, membela dan berpihak kepada yang lemah, untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang dan terjadinya eksploitasi terhadap yang lemah (Prijono dan Pranarka, 1996).
Dalam pandangan Pearse dan Stiefel dinyatakan bahwa pemberdayaan mengandung dua kecenderungan, yakni primer dan sekunder. Kecenderungan primer berarti proses pemberdayaan menekankan proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya. Sedangkan kecenderungan sekunder melihat pemberdayaan sebagai proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihannya (Prijono dan Pranarka, 1996).
Sedangkan dalam kajian ini pengertian “pemberdayaan” dimaknai sebagai segala usaha untuk membebaskan masyarakat miskin dari belenggu kemiskinan yang menghasilkan suatu situasi di mana kesempatan-kesempatan ekonomis tertutup bagi mereka, karena kemiskinan yang terjadi tidak bersifat alamiah semata, melainkan hasil berbagai macam faktor yang menyangkut kekuasaan dan kebijakan, maka upaya pemberdayaan juga harus melibatkan kedua faktor tersebut.
Salah satu indikator dari keberdayaan masyarakat adalah kemampuan dan kebebasan untuk membuat pilihan yang terbaik dalam menentukan atau memperbaiki kehidupannya. Konsep pemberdayaan merupakan hasil dari proses interaksi di tingkat ideologis dan praksis. Pada tingkat ideologis, pemberdayaan merupakan hasil interaksi antara konsep top-down dan bottom-up, antara growth strategy dan people centered strategy. Sedangkan di tingkat praksis, proses interaksi terjadi melalui pertarungan antar ruang otonomi. Maka, konsep pemberdayaan mencakup pengertian pembangunan masyarakat (community development) dan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat (community based development). Community development adalah suatu proses yang menyangkut usaha masyarakat dengan pihak lain (di luar sistem sosialnya) untuk menjadikan sistem masyarakat sebagai suatu pola dan tatanan kehidupan yang lebih baik, mengembangkan dan meningkatkan kemandirian dan kepedulian masyarakat dalam memahami dan mengatasi masalah dalam kehidupannya, mengembangkan fasilitas dan teknologi sebagai langkah meningkatkan daya inisiatif, pelayanan masyarakat dan sebagainya. Secara filosofis, community development mengandung makna ‘membantu masyarakat agar bisa menolong diri sendiri’, yang berarti bahwa substansi utama dalam aktivitas pembangunan masyarakat adalah masyarakat itu sendiri.
Sumber Gambar: http://www.aulia-kids.org/_img/jpg/05.jpg

PENDIDIKAN ALTERNATIF



DI LINGKUNGAN KITA SEHARI - HARI







GLOBAL WORNING

GERAKKAN PENGHIJAUAN

WARISKAN BUMI YANG ASRI UNTUK ANAK CUCU KITA NANTI

ADA DI LINGKUNGAN KITA



Kamis, 17 November 2011

DPRD dukung percepatan TPA regional

MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengharapkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mendukung rencana pembangunan tiga tempat pembuangan akhir (TPA) regional guna menampung sampah dari tiga kawasan itu.

“Kami membutuhkan dukungan DPRD Sumut agar pembangunannya bisa dipercepat,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut Riyadil Akhir Lubis dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi D DPRD Sumut di Medan.

Menurut Riyadil, berdasarkan penilaian selama ini, kondisi TPA yang ada saat ini tidak memadai untuk menampung sampah yang berasal dari aktivitas masyarakat tersebut.

Apalagi jika dilihat dari TPA di Medan yang berada di kawasan Padang Bulan yang dinilai sangat tidak memadai karena banyaknya sampah dari masyarakat.

“Bahkan, pada tahun 2015 nanti, TPA-nya sudah tidak layak pakai lagi,” katanya.

Disebabkan banyak sampah yang didapatkan tersebut, Pemprov Sumut berencana membangun tiga TPA regional untuk menampung limbah akhir aktivitas masyarakat dari sejumlah daerah.

Riyadil mengatakan, TPA regional pertama akan dibangun di Kabupaten Deli Serdang untuk menampung sampah dari Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Langkat, dan Karo (Mebidangkatro).

Kemudian, TPA regional di Kabupaten Serdang Bedagai untuk menampung dari sampah dari Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi dan Pematang Siantar.

Sedangkan TPA regional ketiga akan dibangun di Sibolga untuk menampung sampah masyarakat dari Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah.“Ketepatan, untuk lokasi, Pemkab Tapanuli Tengah telah menyiapkan areal seluar 20 hektare,” katanya.

Sebagai modal awal, kata dia, pihaknya dapat melakukan pembangunan tersebut karena adanya sinyal dari Pemerintah Jerman untuk memberikan bantuan.Namun pihaknya masih membutuhkan tambahan dana karena biaya yang akan dikeluarkan untuk pembangunan tiga TPA regional tersebut diperkirakan cukup besar.

Meski demikian, Pemprov Sumut bisa mendapatkan dana tersebut karena tersimpan di Kementerian Pekerjaan Umum. “Karena itu, kami mengharapkan DPRD Sumut bisa membantu,” katanya.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI

Sabtu, 03 Juli 2010

Peringkat limbah Kl Medan selalu merah

10 Feb 2010
BISNIS INDONESIA
MEDAN Pemerintah Provinsi Sumatra Utara menyebutkan pe-ngelolahan limbah yang dihasilkan secara massal oleh Kawasan Industri Medan (KIM) selalu mendapatkan peringkat merah.Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut, Samsul Arifin mengatakan pihaknya sudah beberapa kali mengingatkan pengelola supaya memperhatikan limbah yang dihasilkan KIM.

Limbah Gas

Pencemaran udara dapat disebabkan oleh sumber alami maupun sebagai hasil aktivitas manusia. Pada umumnya pencemaran yang diakibatkan oleb sumber alami sukar diketahui besarnya, walaupun demikian masih mungkin kita memperkirakan banyaknya polutan udara dan aktivitas ini. Polutan udara sebagai hasil aktivitas manusia, umumnya lebih mudah diperkirakan banyaknya, terlebih lagi jika diketahui jenis bahan, spesifikasi bahan, proses berlangsungnya aktivitas tersebut, serta spesifikasi satuan operasi yang digunakan dalam proses maupun pasca prosesnya. Selain itu sebaran polutan ke atmosfir dapat pula diperkirakan dengan berbagai macam pendekatan. Bagaimana cara memperkirakan banyaknya polutan yang keluar dari sistem operasi tertentu, serta pendekatan yang digunakan untuk memprediksi sebaran polutan tersebut ke atmosfir akan diuraikan pada pembahasan berikut ini.

Penanganan Limbah Industri Pangan


Oleh Winiati P. Rahayu
Industri pangan mempunyai kewajiban untuk menangani limbahnya dengan baik. Dengan demikian banyak dana yang dapat dihemat karena industri tersebut terhindar dari kerugian ekonomi akibat kompensasi masalah yang dapat timbul akibat limbah yang tidak tertangani dengan baik. Disamping itu, penanganan limbah juga merupakan tanggung jawab sosial industri terhadap lingkungan. Menurut perkiraan, dari semua bahan pangan yang diolah secara industrial, 20% diantaranya akan menjadi limbah.

Selasa, 29 Juni 2010

Terpaan Media Massa, Usia Kematangan Remaja Semakin Cepat

Medan, (Analisa)

Usia kematangan remaja saat ini semakin cepat dibandingkan dengan remaja masa lalu.
Remaja masa lalu, usia kematangannya atau pubertas ketika berusia 15 - 17 tahun namun pubertas remaja masa kini usianya antara 10 - 12 tahun.

"Dampaknya sangat mengkhawatirkan di antaranya remaja hamil di luar nikah, seks bebas dan pacaran di usia dini," ungkap Dekan Psikologi UMA, Dra Hj Irna Minauli MSi didampingi Ketua Panitia Seminar Remaja, Istiana SPsi MPd dan Kabag Humas UMA, Dra Hj Hermawaty Harahap MAp kepada pers, Senin (28/6) di Fakultas Psikologi UMA.

Pernyataan Irna Minauli tersebut terkait dengan seminar remaja, masalah dan penanggulanganya, yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UMA bersama Penerbit Erlangga, Sabtu (26/60 lalu di Convention Hall kampus UMA.

Lebih lanjut dikatakannya, penyebab kematangan pubertas seorang remaja diakibatkan pengaruh terpaan media massa dan asupan nutrisi makanan bergizi dan kesehatan remaja.

"Adanya terpaan teknologi komunikasi khususnya media massa, mereka para remaja percepatan kematangan fisiknya, tidak sejalan dengan perkembangan kognitif dan emosionalnya," jelas Irna Minauli yang saat kegiatan seminar membicarakan masalah memahami remaja.

Kematangan fisik seorang remaja itu bisa dilihat dari bentuk tubuhnya seperti payudara yang besar, nada suara berubah, jakun membesar, cepat mengalami menstruasi bagi remaja putri dan mimpi basah bagi remaja putra dan sebagainya.

Antisipasi

Untuk mengantisipasi dampak negatif dari kematangan usia pubertas remaja saat ini, lanjut Irna Minauli sangat diperlukan kualitas komunikasi antara orang tua dan remaja. Orang tua harus menjadi teman bagi anak remajanya dan jangan memperlakukan anak remajanya seperti remaja masa lalu yang selalu mendikte dan mengatur. "Perlakuan remaja sekarang harus dibedakan tidak sama seperti remaja dahulu yang selalu diatur oleh orang tuanya," jelas Irna Minauli.

Solusi mengantisipasi dampak buruk kematangan usia remaja lainnya adalah dengan memberikan pendidikan seksual sejak dini dan memberikan pemahaman norma - norma agama, mana yang baik dan yang salah.

Sementara itu Ketua Panitia Seminar, Istiana SPsi MPsi menjelaskan pada saat seminar remaja, masalah dan penanggulanganya tersebut diikuti sebanyak 100 peserta dari kalangan mahasiswa dan dosen berasal dari berbagai perguruan tinggi di Medan.

Para pembicara terdiri dari, Irna Minauli, Andi Chandra dengan pembicaraan mengenai remaja dan narkoba, Mariono "remaja dan keterbelakangan mental" serta Ummu Khuzaimah. "Tujuan dari seminar tersebut agar mahasiswa dan dosen bisa memahami bagaimana memperlakukan seorang remaja, sehingga masa remaja tidak sia - sia,"kata Istiana. (twh)

Rabu, 23 Juni 2010

LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA ( LMCR ) 2010

* Berhadiah Total Rp 85 Juta + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD


* Peserta Siswa SLTP (Kategori A), Siswa SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C)

Syarat-syarat Lomba:

1. Lomba ini terbuka untuk pelajar tingkat SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia maupun yang studi/bekerja di luar negeri. Kecuali keluarga besar PT ROHTO Laboratories Indonesia dan Panitia/Dewan Juri LMCR 2010
2. Lomba dibuka 21 April 2010 dan ditutup 15 September 2010 (Stempel Pos)
3. Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, derita dan kekecewaan)
4. Judul bebas tetapi harus mengacu tema Butir 3
5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul
6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia literer (indah, menarik, mengalir) dan komunikatif. Bahasa gaul dan bahasa daerah/asing boleh digunakan untuk segmen dialog para tokohnya – jika itu diperlukan dan sesuai dengan tema
7. Naskah yang dilombakan harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasi

Ketentuan Khusus:

1. Naskah ditulis di kertas ukuran kuarto, ditik berjarak 1,5 spasi, font 12, huruf Times New Roman, margin justified 2 Cm, panjang naskah antara 6 – 10 halaman, dikirim ke panitia dalam bentuk printout 3 (tiga) rangkap/copy disertai file dalam bentuk CD.
2. Cantumkan sinopsis maksimal 1 (satu) halaman, mini-biodata pengarang, foto 4R, fotocopy KTP atau SIM/Paspor/Student Card
3. Setiap judul cerpen yang dilombakan wajib dilampiri kemasan LIP ICE (bagian kartonnya) atau segel SELSUN Shampo jenis apa saja
4. Naskah cerpen yang dilombakan beserta persyaratannya dimasukkan ke dalam satu amplop (boleh berisi beberapa judul), cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2010 dan Kategori-nya di atas amplop kanan atas dan dikirim ke: Panitia LMCR-2010 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City Bogor 16810
5. Hasil lomba diumumkan tanggal 15 Oktober 2010 melalui www.rayakulturanet dan www.rohto.co.id

1. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat
2. Hasil Lomba:

Masing-masing kategori: Pemenang I, II, II dan 5 (lima) Pemenang Harapan Utama, 10 (sepuluh) Pemenang Harapan dan Pemenang Karya Favorit untuk Kategori A: 20 Pemenang, Kategori B: 60 Pemenang dan Kategori C: 100 Pemenang.

Hadiah Untuk Pemenang:

Kategori A (Pelajar SLTP)

* Pemenang I – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
* Pemenang II – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* Pemenang III – Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 20 (dua puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
* Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010
* Sekolah Pemenang I, II dan II berhak mendapat 1 (satu) unit TV

Kategori B (Pelajar SLTA)

* Pemenang I – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
* Pemenang II – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* Pemenang III – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 60 (enam puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
* Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010
* Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1 (satu) unit TV

Kategori C (Mahasiswa/Guru/Umum)

* Pemenang I – Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
* Pemenang II – Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* Pemenang III – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari + Piagam LIP ICE-SELSUN
* 100 (seratus) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
* Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010

1. Naskah cerpen yang dilombakan jadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya. Informasi lebih lanjut e-mail ke rayakultura@gmail.com


Ketua Panitia LMCR-2010

Dra. Naning Pranoto, MA

Jumat, 18 Juni 2010

Sungai Deli Penuh Sampah, Wagubsu Prihatin Wagubsu Bersama Kepala BLH Sumut Harungi Sei Deli.

Wagubsu Gatot Pudji Nugroho mengaku prihatin dengan kondisi Sungai Deli yang saat ini dipenuhi sampah. Akibatnya, Sungai Deli jadi kotor padahal dulunya lokasi itu pernah dijadikan jalur perdagangan di Kota Medan
Hal itu diungkapkan Wagubsu Gatot Pujonugroho saat menyusuri Sungai Deli dari Jembatan Pulo Brayan Kota hingga ke Jembatan Simpang Kantor Labuhan.
Saat penyusuran, Gatot mendapati di sepanjang alur Sungai Deli, masyarakat masih banyak menggunakan air sebagai sumber kehidupan sehari-hari, yakni untuk keperluan mandi dan MCK.
Satu hal yang masih menghibur hati Wagubsu, dia sempat menyaksikan masih ada masyarakat yang menggunakan ban mengumpulkan sampah (botot), plastik, besi dan lainnya khusus di daerah Titi Papan untuk dijual ke pengumpul sampah.
Hasil penelusurannya dengan Kepala BLH Sumut Prof Syamsul Arifin SH, MH, Asisten Sosial Pemko Medan Farid Wajedi, Kadis Pengelolaan Sumberdaya Air Sumut Ruslan dan Syarifuddin Siba selaku Ketua Tim Aksi Pengembangan Sumber Daya Hayati Laut Pantai Timur Sumut direncanakan akan menyusun strategi pengelolaan Sungai Deli.
Diharapkan program pengelolaan Sungai Deli yang sudah dilaksanakan BLH Sumut sejak empat tahun lalu bersama dengan JICA dan Kantor Kementerian Negara LH lebih diintensifkan pelaksanaannya dengan melibatkan Pemko Medan dan Deliserdang.
Sementara Kepala BLH Sumut Prof H Syamsul Arifin SH,MH dari hasil kajian ternyata penyebab menurunnya kualitas Sungai Deli disebabkan limbah domestik 60 persen ditambah limbah perusahaan dan limbah domestik bersumber dari pertanian, karena Sungai Deli yang panjangnya 72 km, berada di daerah Kabupaten Karo (hulu sungai), Deliserdang dan Kota Medan yang bermuara di perairan Belawan. ****

Sungai Deli Akan Jadi Objek Wisata

Guna menjaga kelestariannya, Pemprovsu berencana akan menjadikan Sungai Deli sebagai objek wisata sungai di Sumut.
Hal itu dikatakan Wagubsu, Ir. Gatot Pujonugroho, pada acara sarasehan lingkungan dalam rangka memperingati hari Lingkungan Hidup se-Dunia dihalaman SD Negeri 066658 Labuhan Deli, Kec. Medan Marelan, Sabtu (27/6).
Dihadapan puluhan peserta terdiri dari warga sekitar bantaran Sungai Deli, Wagubsu menjelaskan, kalau sungai Deli memiliki panjang sekitar 72 km melintasi Kab Tanah Karo, Kab. Deli Serdang dan Kota Medan. Ketiga daerah yang dilintasi sungai itu memiliki sejumlah masalah. Untuk Kabupaten Tanah Karo, permasalahan yang dihadapi Pemkabnya adalah masalah pendangkalan akibat seringnya terjadi longsor.” Sedangkan Kab. Deli Serdang dan Kota Medan menghadapi masalah limbah industri,”katanya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemprovsu telah menyiapkan program Pengolahan Ekosistem Sungai Deli yang dilaksanakan sejak tahun 2006. “ Program itu masih berjalan dan terakhir pada tahun 2008 Pemprovsu bersama PTPN IV melakukan program penanaman pohon sepanjang bantaran sungai Deli,” ujar Wagubsu.
Didampingi Kepala BLH Sumut, Prof Syamsul Arifin SH, MH Wagubsu menegaskan, jika program pelestarian dan perbaikan Sungai Deli tidak akan berhasil jika masyarakat sekitar sungai tidak mendukung,”Jika program terlaksana dengan baik maka lima tahun ke depan Sungai Deli akan menjadi objek wisata sungai Sumut,’ucap Gatot.
Acara yang rencananya akan dimulai pukul 11.00 itu, molor hingga sekitar 4 jam. Hal itu terjadi akibat lamanya waktu perjalanan Wagubsu ketika menelusuri Sungai Deli mulai dari Brayan, Kec Medan Barat hingga ke lokasi acara. Diakui Wagubsu, sepanjang perjalanannya menelusuri Sungai Deli, dirinya mencium bermacam bau busuk dari limbah pabrik yang dibangun disepanjang sungai. Selain itu juga melihat puluhan bahkan hingga ratusan lobang mirip goa yang digunakan sebagai alur pembuangan limbah.” Semua itu telah menjadi masalah dan akan kita benahi bersama instansi terkait,” ujarnya bersungguh-sungguh.
Seorang warga yang diberi kesempatan bertanya dalam acara itu, H Awaluddin meminta Pemprovsu untuk tidak memperingati hari lingkungan hidup sebagai acara seremonial belaka dan tanpa perbuatan yang nyata. Menurutnya, Pemprovsu sudah berulangkali melaksanakan program penghijauan dibantaran Sungai Deli, namun tidak berhasil karena tidak adanya keseriusan dalam merawat pohon yang ditanam.
Tokoh nelayan itu juga menilai Badan Lingkungan Hidup Sumut tidak tegas dalam mengawasi pendirian industri, sebab saat ini banyak industri yang tidak memiliki tempat Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL).” Seharusnya pemerintah jangan mengeluarkan ijin jika ada industri yang tidak memiliki Amdal,”tegas Awaluddin.
Selain itu, Awaluddin mengatakan, kalau Sungai Deli telah dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah cair maupun limbah kering oleh industri dan rumah tangga. Akibatnya sejumlah biodata laut yang hidup dimuara sungai mulai berkurang bahkan nyaris habis akibat terkena polusi dan banyak tumpukan sampah plastik.” Ini terjadi karena pemerintah tidak tegas dan serius dalam mengawasi Sungai Deli,”katanya.
Menanggapi hal itu, Wagubsu dengan tenang mengaku kalau kedatangannya telah dipersiapkan untuk menampung seluruh keluhan dan cacian dari masyarakat.” Kita akan tampung semua masalah itu dan akan dikoordinasikan demi perbaikan kedepan,” kata Gatot dengan nada birokrat.
Masih dalam kaitan acara tersebut, ditanya mengenai dugaan kegagalan program penghijauan bantaran Sungai Deli dan penanaman pohon Mangrove dipantai laut Belawan, Kepala BLH Sumut, Prof Syamsul Arifin SH MH, mengatakan kalau yang bertanggung jawab merawat pohon itu adalah sekolompok masyarakat konservasi.” Kelompok ini telah terbentuk dan mereka yang bertanggung jawab untuk merawatnya,” katanya singkat.
Selain dihadiri puluhan ibu-ibu dari sekitar lokasi, hadir juga dalam acara itu Kadis Sumber daya Air, Ruslan Effendi Siregar, pejabat Dinas Kesehatan Pemprovsu, Dr Ninik, Kesos Pemko Medan, Farid Wajedi, Dir Oprasional PDAM Tirtanadi Medan, T Fahmi, Msi, Camat Medan Marelan, S Armansyah Lubis, SH, Kapolsekta Medan Labuhan, AKP Dony Aleksander, SIK dan Lurah Labuhan Deli, Drs Abdul Karim serta kepling. ***

Rabu, 16 Juni 2010

Program Pemilihan Jaka Dara Kota Medan Dinilai Hanya Pemborosan

Ditampung di APBD 2010 Sebesar Rp 691,5 Juta
Medan, Skala
Pemko Medan kembali menampung program penyelenggaraan pemilihan jaka dara dalam APBD Medan 2010. Nilainya meningkat dari tahun sebelumnya, sebesar Rp671,5 juta, yang tahun sebelumnya sebesar Rp250 juta. Padahal kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak ada. Sehingga kegiatan ini dinilai sebagai bentuk pemborosan anggaran.
“Kondisi ini, tidak tepat. Tidak ada manfaatnya. Anggaran begitu besar, hanya untuk memilih jaka dara. Apa tujuannya dan manfaatnya bagi masyarakat. Saya lihat tidak ada manfaatnya. Kalau sudah berlangsung pemilihan, saya lihat tidak ada lagi kegiatannya. Apa yang diperbuat oleh jaka dara ini serta hasil yang diberkan ke Kota Medan,” kata Wakil Ketua Fraksi PDIP DPRD Medan, Hasyim SE, Senin (17/5).
Sampai sekarang, sambungnya, kita tidak merasakan apa-apa dari kegiatan tersebut. Malah, program ini lebih cenderung sebagai pemborosan anggaran. Karena secara keselurahan masyarakat Medan belum merasakan manfaat kegiatan tersebut.
“Artinya untuk pembangunan Kota Medan, dari Jaka dara ini belum ada. Baik itu untuk mendatangkan investor, lapangan kerja dari jaka dara ini, tidak ada. Kegiatan jaka dara ini sia-sia. Sementara anggarannya cukup besar,” urainya.
Hal senada diungkapkan, anggota Komisi C DPRD Medan, Jumadi. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak memberikan manfaat bagi generasi muda.
“Jika kegantengan dilaga dengan kecantikan, untuk apa. Jika ingin generasi lebih maju, harus berpacu dengan tehnologi, kemodrenan.
Kenapa harus dengan kecantikan dan kegantengan. Ini masalah fitrah rupa manusia, siapa yang bisa merubah rupa,” katanya, seraya menegaskan jika ingin melaga kecantikan dengan kegantengan, tidak perlu.
Jika cantik maupun ganteng tapi otak kosong untuk apa. Ini sama saja mubajir dan buang-buang anggaran. Lebih baik anggaran itu dialihkan ke kegiatan lain. Semisal penanggungan anak terlantar, pelayaannan kesehatan dan lainnya.
“Lebih baik anggaran tersebut dialokasikan ke kegiatan lain. Program ini harus dikaji ulang. Sebab tidak ada korelasinya dengan pariwisata. Termasuk dalam upaya meingkatkan kunjungan wisata,” sebutnya.
Seharusnya dalam mendorong pariwisata Medan itu, Pemko  memperhatikan pelayanan dan fasilitas serta kenyamanan wisatawan.
”Jika fasilitas dan service tidak mendukung, bagaimana. Semisal di Jogja, becak diberdayakan guna mendorong pariwisata. Hal seperti ini, karena mereka bina,” terangnya.
Sementara di Medan, sangat kontras. Ia juga mengingatkan Dinas Pariwisata Medan, karena banyak aset-aset yang seharusnya dapat ditata dengan baik. Karena asset tersebut dapat dimanfaat untuk mendorong iklim pariwisata di Medan.
Selain itu, Hasyim berpendapat kegiatan pemilihan jaka dara ini sebenarnya bisa saja dilakukan. Namun tidak dengan anggarannya besar itu.
“Bisa saja ini diselenggarakan, sesederhana mungkin, jika hanya untuk pemilihan saja. Kan bisa dipilih tempatnya yang sederhana, kan yang terpenting dari sana hasilnya. Kalau andalkan biaya tinggi namun hasilnya tidak ada, untuk apa,” katanya, seraya menambahkan program tersebut untuk pembinaan pemuda unjuk kemampuan.

Lomba Rakit Tradisional Meriahkan HUT Kota Medan



Selasa, 8 Juni 2010
MEDAN-Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Medan akan kembali menggelar lomba rakit tradisional batang pisang Piala Walikota Medan II/2010, 26 Juni mendatang.

Lomba mengambil rute di aliran Sungai Deli dengan titik start di Jembatan Titi Papan Medan Deli dan finish di Jembatan Aloha Medan Labuhan. Kadispora Medan Busyral Manan, kemarin mengatakan, even yang digelar untuk kedua kalinya, tahun ini mengambil moment peraya-an Hari Jadi ke-420 Kota Medan.

“Dispora Medan menggelar kegiat-an olahraga menyambut HUT Kota Medan tersebut, yang salahsatunya olahraga masyakarat lomba rakit tra-disional,” katanya. Lomba ini terbuka untuk umum, memperebutkan Piala Bergilir Walikota Medan, piala tetap, uang pembinaan jutaan rupiah serta hadiah hiburan lewat lucky draw.

Eko Hendra dari 3G Communicatios selaku event organizer, mengatakan, untuk lebih memeriahkan lomba, panitia juga menyertakan satu kategori penilaian khusus yakni rakit hias. “Pemenang lomba rakit hias ini akan mendapatkan hadiah khusus dari panitia dan sponsor,” katanya.

Persyaratan peserta minimal berusia 17 tahun ke atas, berbadan sehat dan bisa berenang. Satu tim terdiri dari dua orang yang menyiapkan rakit sendiri terbuat dari batang pisang, panjang 225-250 cm dan lebar 80-100 cm. Pendaftaran gratis, dengan menghu-bungi Kantor Dispora Medan Jalan Ibus Raya Medan Petisah (Ibu Susi), 3G Communications (Eko : 06177310259, 081375219030), John Poltak (081361677896), Kepling II Kel. Martubung Medan Labuhan, Abdul Jalil (Jl. Yos Sudarso No. 45 Km 15,5 depan PT Agro Jaya Perdana, 0616841020). (sormin)
 

Cetak Berita Ini

Selasa, 15 Juni 2010

Jaminan Sosial Lansia Diharapkan Berlaku Nasional 2011

Senin, 14 Juni 2010 19:36
Bogor, (Analisa)

Kementerian Sosial berencana menjadikan program jaminan sosial bagi kaum lanjut usia menjadi program nasional pada tahun 2011.

"Tahun depan (2011) kita berharap program ini berlaku nasional karena lanjut usia (Lansia) terlantar yang harus disantuni mencapai 2,4 juta orang," kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri seperti disampaikan Tenaga Ahli Bidang Hubungan Media dan Tata Kelola Pemerintahan Drs Sapto Waluyo MSc melalui pesan singkat kepada ANTARA, Senin (14/6).

Ia mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut positif laporan tentang jaminan sosial lanjut usia itu, yang disampaikan pada puncak peringatan Hari Lansia Nasional di Istana Negara pada Rabu (9/6) lalu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta dana jaminan sosial bagi kaum lanjut usia ditingkatkan dari saat ini sebesar Rp300 ribu per orang per bulan.

"Saya sudah berbicara dengan Mensos agar anggaran terus ditingkatkan. Anggaran per bulan sebesar Rp300 ribu saya minta ditingkatkan sejalan dengan peningkatan GDP (produk domestik bruto) dan anggaran negara," kata Presiden.

Mensos Salim Segaf Al-Jufri menjelaskan bahwa sejak 2006 pemerintah memberikan dana jaminan sosial bagi Lansia sebesar Rp300 ribu per bulan per orang kepada 10.000 warga lansia.

Presiden mengatakan selain peningkatan anggaran jaminan sosial, kebijakan dan program aksi pemerintah sekarang dan ke depan akan terus meningkatkan perlindungan dan bantuan kesejahteraan sosial bagi Lansia dan masyarakat golongan khusus lain seperti penyandang cacat berat, anak-anak terlantar dan kelompok masyarakat lain yang wajib diberi perlindungan.

Presiden juga meminta pemerintah daerah, kota dan kabupaten terus meningkatkan pendirian fasilitas umum untuk lansia dan warga cacat seperti di stasiun, terminal dan tempat umum lain.

"Tidak etis manakala yang tua dan cacat berdesakan di stasiun terminal, mari kita hormati mereka dengan memberi kemudahan sebagai implementasi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Presiden menjelaskan, jumlah penduduk Lansia di Indonesia terus meningkat tiap tahun dari 1970 sebesar 5,3 juta jiwa menjadi 19,5 juta jiwa pada 2008.

Jumlah Lansia yang meningkat, lanjutnya, menunjukkan bahwa pembangunan yang dilaksanakan menghasilkan capaian-capaian yang nyata karena dengan makin tinggi usia harapan hidup berarti tingkat kesejahteraan makin baik. (Ant)

Menko: Wacana Listrik Gratis Perlu Kajian

Senin, 14 Juni 2010 19:36
Jakarta, (Analisa)

Menko Perekonomian Hatta Rajasa, mengatakan, wacana listrik gratis untuk masyarakat miskin yang diusulkan oleh PLN masih memerlukan kajian lebih lanjut.

"Ya ini kan sesuatu wacana yang dilontarkan dirut PLN, maksudnya baik, barangkali mencarikan solusi untuk itu, akan tetapi saya kan tidak harus bereaksi setuju tidak setuju, saya kan harus lihat kajiannya seperti apa, apa yang dimaksud dengan gratis itu," ujarnya saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Senin (14/6).

Ia menyatakan wacana seperti itu juga perlu disikapi dengan kehati-hatian dan masih membutuhkan pembahasan sebelum ada keputusan lebih lanjut.

"Tidak harus saya tergesa-gesa dan menyatakan setuju tidak setuju, kita harus hati-hati," ujarnya.

Menurut dia, dengan adanya wacana kenaikan TDL sebesar 10 persen dan pembatasan pemberian subsidi listrik kepada sektor industri telah menimbulkan protes dan penolakan, untuk itu walaupun usul dapat dilontarkan masih dibutuhkan kajian.

"Sebagian saja disubsidi (konsumsi listrik) dengan baik ke industri, industrinya saja berteriak, apalagi 100 persen harga keekonomian seperti apa. Ini semua memerlukan kajian dan kehati-hatian," tambahnya.

Ia mengatakan wacana ini juga akan dibicarakan terlebih dahulu dengan pejabat terkait, terutama dengan menteri ESDM Darwin Saleh.

Sementara, Hatta juga kembali mengingatkan menjelang kenaikan TDL, bahwa subsidi harus tepat sasaran, karena sangat terkait dan mempengaruhi kemampuan dana APBN serta daya beli masyarakat.

"Kita harus konsisten kita harus jaga APBN prudent dan kredibel, kalau tidak tepat sasaran APBN bisa jebol dan yang tidak tepat sasaran memang tidak harus disubsidi dan itu prinsip yang harus kita jaga," ujarnya.

Sebelumnya Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara Persero (PLN), Dahlan Iskan, mengusulkan agar listrik untuk masyarakat miskin digratiskan, sementara untuk yang lain disesuaikan tarifnya dengan harga pasar.

"Saya serius. Yang miskin gratis saja, sudah kita cetuskan di DPR kemarin. Pemerintah belum ada tanggapan, dikira saya guyon. Saya serius," katanya dalam acara diskusi TDL yang diselenggarakan Forkem dengan Kementrian Koordinatao Perekonomian di Pulau Bidadari, Jakarts, Sabtu.

Ia mengatakan masyarakat miskin tersebut adalah mereka yang mempunyai listrik 450 Kwh yang diperkirakan mencapai 20 juta pelanggan. "Atau kira-kira memiliki lima lampu bolam ditambah dengan TV, Radio, VCD, rice cooker bergantian dengan setrika dan kipas angin," katanya.

Dahlan mengatakan, dengan skema rakyat miskin gratis, sementara untuk masyarakat lainnya membayar sesuai tarif pasar, maka PLN akan untung.

Dia memperkirakan untuk menggratiskan masyarakat miskin, maka pihaknya akan kehilangan pendapatan sekitar Rp1,5 triliun, sedang pendapatan dari masyarakat lainnya yang membayar sesuai tarif akan meningkat Rp20 triliun.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Effendi Simbolon menilai menggratiskan biaya listrik kepada rakyat miskin hanya memindahkan masalah saja.

"Sepanjang kerugian biaya pelanggan R1 tidak dibebankan ke pelanggan lain, silahkan saja. Tetapi kalau dipindahkan ke pelanggan lain, itu hanya menambah persoalan saja, tidak menyelesaikan masalah," kata Effendi Simbolon di gedung DPR Senayan Jakarta, Senin (14/6).

Sebelum Dirut PT PLN Dahlan Iskan melontarkan gagasan untuk mengratiskan listrik bagi masyarakat miskin atau golongan R1 atau 450 VA. Selama ini beban biaya untuk pelanggan golongan R1 ini sebesar Rp1,4 triliun per tahun.

Namun Effendi mengatakan wacana mengratiskan listrik R1 tersebut belum disampaikan secara resmi oleh pemerintah. Karena itu tambahnya komisi VII belum mau memberikan tanggapan.

"Saya perlu sampaikan bahwa isu gratis itu muncul spontan dari saudara Dahlan yang merasa frustasi dengan begitu kendala yang ada di manajemen PLN," kata Effendi.

Namun tambah Effendi seharusnya rasa frustasi Dirut PT PLN itu diarahkan ke pemerintah karena tidak segera menyelesaikan persoalan ini.

"Kalau Dahlan menantang DPR itu salah alamat harusnya kepada presiden (SBY) dan pemerintah agar segera memberikan solusi terhadap permasalahan di PLN ini, tidak lantas membebaskan pelanggan R1," kata Effendi.

Menurut Effendi untuk membebaskan listrik R1 tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi tambahnya kalau beban biaya pelanggan di R1 itu hanya akan dipindahkan ke pelanggan lain.

"Ini hanya menambah karut marut permasalahan listrik," kata Effendi.

Menurut Effendi untuk persoalan ini harus dikaji betul bagaimana mekanismennya dan begitu juga aturannya. (Ant/try)